Selendang Akademik, Dunia Akademik, dan Dunia Kerja (Industri).
Menghadiri upacara penyematan selendang akademik lulusan S1, S2. dan S3 Institute Pariwisata Trisakti, pada hari minggu tanggal 10 Oktober 2024, menggugah saya untuk menulis opini singkat ini:
Penyematan selendang bagi para lulusan perguruan tinggi, dala
m semua jenjang, adalah simbolik dari sebuah pencapaian, bahwa seseorang telah dinyatakan selesai dan berhasil menempuh proses pembelajaran setelah melalui proses uji kecakapan dan kemampuan secara akademik. Istilah akademik, selama ini yang saya pahami, selalu dikonotasikan dengan pembelajaran secara teoritik keilmuan, bukan keahlian dan keterampilan praktis. Apakah paradigma demikian itu masih berlaku? Menurut saya tidak. Kalau toh masih ada yang berpikir seperti itu, harus bersegera pengubah paradigmanya, kalau tidak mau ” kualat”.
Tiga tugas utama perguruan tinggi belum berubah hingga sekarang; pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, yang disebut dengan Tridharma. Menurut saya, Tridharma tidak perlu berubah, tapi orientasi dan pemaknaannya yang harus berubah, sesuai dengan perubahan zaman yang sangat cepat dan sering tak terduga, mengejutkan, sering bikin syok. Perguruan tinggi harus bersiap dengan paradigma baru agar tidak mudah terkejut menghadapi perubahan.
Tak dipungkiri, selama ini sebagian besar orang sekolahan atau kuliah jika ditanya apa tujuan sekolah atau kuliah? Jawabannya adalah buat cari pekerjaan, agar lebih mudah dengan gelar yang disandang. Walaupun nyatanya tidak selalu demikian, dengan banyaknya sarjana nganggur. Siapa yang salah jika demikian?
Apakah ingin lebih mudah dalam mencari kerja, salah? Tentu tidak. Semua orang ingin itu. Apakah dengan pendidikan orang akan lebih mudah dalam mencari kerja? Tergantung, bisa ya, bisa tidak. Banyak juga orang punya ijazah gak guna, atau orang bekerja tak sesuai dengan ijazahnya. Justru banyak yang sukses. Lantas, gimana dong?
Saat ini adalah era kompetensi. Orang dicari karena kompetensinya, bukan ijazahnya. Pertanyaannya, kamu bisa apa, bukan kamu punya apa ( ijazah). Saya tak mengatakan ijazah tidak penting, ijazah tetap penting sebagai bukti kita pernah makan bangku sekolah, orang berpendidikan. Orang berpendidikan itu, setidaknya punya prinsip begini: saya sekolah biar lebih mudah dapat kerja, gaji besar, fasilitas memadai, tapi tidak lupa untuk terus belajar, upgrade diri. Bukan; saya sekolah, lebih mudah dapet kerja, gaji besar, fasilitas bagus, dah nyaman gak perlu belajar lagi,.. ada kesempatan malah korupsi. Wah,…gaswat. Para koruptor itu rata- rata orang kuliahan semua lho…..
Mungkin gambar 7 orang, mimbar dan teks
Kembali ke laptop….
Di mana peran dunia akademik menghadapi dilema dan fenomena perubahan zaman?
Jawabannya, pastinya amat pelik dan komplek.
Menurut saya, yang pasti dunia akademik
harus mampu melahirkan dua jenis insan;
Pertama, para ahli, pakar, profesor, doktor, dalam berbagai bidang keilmuan, yang terus menerus memacu diri untk kreatif dan inovatif dengan berbagai penemuan dan karya baru dan terbarukan yang bermanfaat untuk masyarakat luas. Bukan hanya orang- orang pintar yang hanya berasyik masyuk dan bertengger di menara gading keilmuannya, alias tidak atau kurang membumi.
Kedua, lulusan dengan kompetensi yang memadai yang mampu bersaing di dunia kerja yang makin kompetitif, bukan hanya mengandalkan ijazah.
Pastinya, keduanya tentu akan lebih ajib, pabila dibekali setidak-tidaknya dengan tiga kemampuan: Public Speaking ( komunikasi), Menulis, dalam berbagai variannya, dan Leadership, utamanya kepemimpinan diri ( Sefl Leadership).
Tetap semangat
Be presence, Enthusiast, Focus, Openmind n Deliver at almost perfect level.

Comments (0)


Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *