Bukan Soal Lantang, Tapi Menggugah dan Mengubah
Dalam berbagai kesempatan, bahkan cukup sering, saya melihat sebuah performa bicara dari seseorang yang dianggap sebagai pemimpin, dalam berbagai variannya, menyampaikan pidato, sambutan, menjadi narasumber, dan lain sebagainya. Apa yang saya lihat, dengar, dan rasakan? Sebuah performa yang menurut saya – sebagai orang yang bergiat di dunia komunikasi, utamanya public speaking, dan sekaligus audiens pada saat itu; rasa kebosanan dan ketidaknyamanan. Dan, perasaan itu saya pikir juga melingkupi audiens yang hadir saat itu. Pertanyaanya, apa yang sebenarnya terjadi?

Aktivitas berbicara, sesungguhnya, bukan sekadar ekspresi mengeluarkan serangkaian kata-kata yang kita sampaikan ke orang lain, alias bicara asal bicara, melainkan lebih dari itu. Bicara, sesungguhnya, terutama dalam konteks public speaking, adalah ekspresi dari sebuah keterpaduan yang utuh dari pikiran, rasa, dan karsa yang tertuang dalam bentuk kata yang terucap (verbal), nada dan irama (vokal), serta gerakan fisik atau gesture (visual). Ketiganya merupakan kesatuan yang utuh dan mengutuh dalam setiap performa bicara yang tak terpisahkan, jika kita hendak menjadi seorang pembicara piawai dan mampu memengaruhi audiens. Bahkan, tatkala kita mampu melakukan itu, belum bisa dikatakan sebagai pembicara yang “sesungguhnya”. Lho, kok? Yes, demi bicara yang terhubung, mampu menggugah, dan akhirnya mengubah audiens menjadi seperti yang inginkan, ada satu syarat yang harus kita miliki, yakni, “Ketulusan”.

Memadukan dan mengutuhkan tiga prinsip dasar berbicara, yakni verbal, vokal, dan visual dibarengi dengan ketulusan menjadi tugas utama dan pertama bagi para pembicara publik, siapa pun, jika ingin menjadi pembicara yang mumpuni dan handal, hingga mampu menggugah dan mengubah. Dan, terpenting terhindar dari “kutukan” rasa ketidaknyamanan dan kebosanan audiens.
Bagi para pemimpin, dalam berbagai variannya, bicara adalah keniscayaan. Satu tugas yang mesti ditunaikan sebaik mungkin jika mau dipandang sebagai pemimpin yang sesungguhya, pemimpin yang menggerakkan, memotivasi, dan memengaruhi. Sebab, salah dua tugas penting para leader adalah empowering dan share vision. Dan kedua hal tersebut mustahil bisa dilakukan tanpa kemampuan berbicara atau berkomunikasi secara seksama dan sebaik-baiknya. Maka, tidak berlebihan jika ada pepatah, “Leader is paid to speak“.

Seorang pakar kepemimpinan Jack C. Welch mengatakan, “Kepemimpinan adalah pengaruh, tidak lebih tidak kurang”. Dan, saya sangat setuju dengan pernyataan itu. Betapa kemampuan memengaruhi menjadi kekuatan utama seorang pemimpin dalam mengimplementasikan berbagai fungsi kepemimpinannya, tak ada yang berani membantah. Memengaruhi pengikutnya untuk bersama-sama, seiring senada dan seirama menuju cita-cita bersama yang telah dicanangkan.

Pertanyaannya, bagaimana jika tidak punya pengikut, apakah berarti bukan pemimpin dan tidak bisa memengauhi? Apakah masih perlu kemampuan bicara? Pemimpin atau bukan, punya pengikut atau tidak, pastilah harus tetap berbicara dan berkomunikasi dengan orang lain, dalam berbagai kepentingan sebagai makhluk sosial. Berbicara adalah keniscayaan bagi semua orang. Berbicaralah dengan baik dan efektif yang mampu menggugah dan mengubah.

Comments (0)