Pegiat Literasi (Penulis) vs AI. Lawan?

Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) telah mengubah lanskap di berbagai aspek kehidupan. Perubahannya tidak bisa dibilang main-main, melainkan sungguh amat serius,  amat signifikan. Industri kreatif, tak dapat dipungkiri, menjadi salah satu ranah yang perubahannya sangat masif dan spektakulker, banyak hal yang terjadi, akibat perangai Artificial Intelligence,  seolah berlangsung di luar “nurul‘. Termasuk dunia literasi (penulisan).

Para pegiat literasi dihadapkan pada suatu problem dilematis yang cukup menyita energi dan menguras pikiran, dalam menghadapinya.  Betapa selama ini, dunia literasi dan AI sering kali menghadapi situasi diametral, rentan terhadap pengingkaran dan kekawatiran.  Dunia literasi dan AI, acap kali dianggap sebagai dua entitas yang bertentangan dan berseberangan.

AI, sebagai mesin pintar, demikian orang menyebut, dengan kekuatan algoritma  yang sangat luar biasa dianggap bisa menggerus peran dan kreativitas para pegiat literasi (penulis) dalam membuahkan karya, dalam berbagai variannya. AI dianggap mengancam peran pegiat literasi sebagai penghubung antara pembaca dan karya mereka. AI megurangi nilai kreativitas dan spontanitas yang menjadi kekuatan para pegiat literasi selama ini. Artificial Intelligence dianggap kurang memahami emosi dan konteks, sebaqaimana manusia. Belum lagi soalan originalitas dan plagiarisme. Dan, masih sederet kekhawatiran lainnya.

Lantas, bagaimana sih seharusnya relasi antara pegiat dunia literasi dan Artificial Intelligence? Kawan atau lawan?

Di tengah berbagai kegamangan dan kekhawartiran para pegiat literasi, dalam bebagai variannya, terhadap kedigdayaan Artificial Intelligence, sebuah kenyataan tak terbantahkan, bahwa keberadaannya suatu yang tak terhindarkan, sehingga harus dihadapai apa pun yang terjadi. Karena gak mungkin juga kita menafikan kemajuan teknologi di era seperti saat ini. Jika itu dilakukan, tentu menjadi kekonyolan yang absurd.   Yang harus dilakukan adalah menyiasati agar tak merugikan terlalu dalam, bahkan harus mampu mengambil manfaat dari semua itu. Terbuka lebar peluang kolaborasi dan sinergi, ada  kebermanfaat yang bisa diperoleh.  Sehingga, pertanyaan kawan atau lawan, menjadi tidak relevan.

Yang menjadi catatan penting!

Kita tidak boleh terlalu bergantung pada AI. AI pada dasarnya diciptakan untuk membantu manusia dalam pekerjaannya. Jadi gunakan teknologi AI ini untuk membantu kita dalam pekerjaan , bukan untuk mengambil alih seluruh pekerjaan. AI diciptakan bukan untuk mengambil alih pekerjaan, tetapi untuk membantu manusia, sehingga kitalah yang seyogianya mengambil kendali.

Jadi AI adalah sebuah mesin, oleh karenanya hanyalah alat atau tool, kitalah manusia yang harus menjadi pengendali, karena kita, manusia, punya jiwa, karsa, dan rasa. Punya pikiran, kreativitas, dan emosi. Secanggih apa pun teknologi, jangan sampai menghilangkan sisi-sisi kemanusiaan kita. Karena manusialah khalifah (penguasa, pengelola, pemakmur) di bumi ini. Inilah hakekat “Penciptaan”.

Salam Literasi.

 

Comments (0)


Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *