15 January, Hari Desa Nasional. Desa Sebagai Pusat Peradaban.

Pariwisata Indonesia, tak dimungkiri, hingga saat ini masih didominasi oleh pariwisata alam (nature) dan budaya (culture), dengan porsi 70 persen. Hal itulah yang membuat negara ini dikenal sebagai destinasi wisata dunia. Keelokan dan keindahan alam, keunikan dan keragaman budaya, serta keramah-tamahan manusianya, menjadi daya tarik utama. Pertanyaannya, apa yang bisa kita lakukan? Pertanyaan demi pertanyaan akan terus sahut menyahut tak berkesudahan . Berbincang pariwisata berarti berbincang tentang keberjanjutan (sustainability). Bukan hanya keberlanjutan dalam sebuah pemahaman yang sempit secara sektoral, melainkan keberlanjutan yang berdimensi secara lebih luas, yakni keberlanjutan peradaban manusia itu sendiri.

Perdesaan selama ini adalah basis budaya masyarakat Indonesia. Desa menjadi lumbung budaya yang amat lekat dengan kehidupan masyarakat langsung dengan segala keunikannya. Desa masih memiliki originalitas yang menjadi daya tarik orang untuk melihat. Tak ragu mengatakan, bahwa desalah selama ini yang menjadi sentrum dan penopang utama peradaban bagi sebagian besar masyarakat negeri ini. Membayangkan keberlangsungan negeri ini tanpa keberadaan desa, tentunya, bagi kita semua, sesuatu yang absurd, bahkan kemustahilan. Mengerikan malah!

Membangun desa sebagai pusat peradaban termasuk sektor pariwisata di dalamnya, yang tertuang dalam konsep Desa Wisata dan Wisata Persedaan, adalah komitmen seluruh seluruh stakeholders, ABCGM (Academy, Business, Community, Goverment, Media), yang secara terpadu dan bahu membahu harus senantiasa membuka mata dan pikiran, bahwa beberlangsungan dan keberlanjutan peradaban, termasuk pariwisata di dalamnya, adalah perpusat pada sejauhmana kita mampu mengelola, menjaga, dan memanfaatkan keberadaan perdesaan, dengan berbagai variannya, untuk lantas menjadikan perdesaan sebagai pusat atau sentrum pengembangan dan penumbuhan berbagai sendi penopang kehidupan masyarakat. Tidak ada ceritanya keberlanjutan tanpa kepedulian (awareness) dan partisipasi segenap stakeholders secara bersama-sama. Kepedulian dan patisipasi, oleh karenanya, menjadi kunci penting dari keberlanjutan (sustainability).

Perdesaan dengan segala segala varian dan pernak-perniknya, tak dimungkiri adalah bagian amat penting bagi upaya membangkitkan kembali sebuah gerakan yang sering dijargonkan dengan ” Back to Nature“, kembali ke alam bebas. Kesadaran akan pentingnya kembali ke alam mengindikasikan bahwa banyak manusia telah merasa lelah dan letih dengan kehidupan selama ini, utamanya, masyarakat perkotaan, dengan berbagai persoalan hidup kekinian yang dilakoni. Menyiasati kondisi demikian, mereka mencari alternatif lain yang bisa menjadi pilihan bagi kebutuhan berliburnya. Mereka mencari suatu yang baru dan berbeda dengan apa yang mereka hadapi selama ini. Dan, perdesaan adalah elternatif yang pas, karena menyuguhkan berbagai keragaman (alam, budaya, kuliner, manusia ) yang mampu memenuhi dahaga bukan hanya dalam arti material fisikal, melainkan juga dahaga spiritual dan kejiwaan. Perdesaan, jika ditata dengan tata kelola yang benar dan profesional akan mampu menyuguhkan perpaduan yang harmonis antara alam, budaya, dan manusia. Inilah, sejatinya, subtansi dan spirit dari pariwisata berkelanjutan ” Lestarikan Alam, Lestarikan Budaya, Niscaya Kau Sejahtera”.

Kembali ke pemaknaan perdesaan sebagai pusat peradaban.Sebagai tempat pengejawantahan paling mengakar dan mendasar dari konsep sustainability tourism, pengembangan kawasan perdesaan sebagai sentrum pembangunan adalah sebuah keniscayaan. Dengan originalitas, keunikan, keterpaduan; alam, budaya, dan manuisa menjadikan perdesaan dengan konsep Desa Wisata dan Wisata Perdesaan, amat layak menjadi jujukan dan rujukan utama bagi para wisatawan yang kelelahan dengan ritme hidup kekinian yanag serba modern, untuk menengok, menghampiri, berinteraksi, dan becumbu berasyik-masyuk  dengan pusat peradaban yang sesungguhnya: alam (nature), budaya (culture), dan manusia (people) dengan segala keunikan dan kesederhaannnya.

 

Comments (0)


Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *