Storynomics Tourism.
Tak terbantahkan, Indonesia adalah negeri seribu pesona dan daya tarik. Kekayaan alam, keindahan dan keelokannya membius banyak orang (dunia) untuk menengok dan menyambangi. Bukan sekadar menengok dan menyambangi namun juga mengeksplorasi. Bahkan, dalam konotasi tertentu, mengeksploitasi dan menggagahi. Tak heran, kekayaan, keindahan, dan keelokan semacam itu membuat negeri ini memiliki posisi amat strategis dalam kancah geopolitik global. Indonesia ” selayaknya” menjadi negara terkemuka, maju dan disegani di kancah global, bukan sekadar negara “medioker” seperti yang terkesan selama ini. Apa yang terjadi selama ini dengan kondisi negeri ini, sehingga menjadi negeri yang dalam banyak hal “Tidak bak-baik saja”. Tentu, bertubi pertanyaan dapat kita sampaikan. Namun, satu jawaban yang pasti bisa menjawab dan mewakili bertubi pertanyaan tersebut, mengerucut pada satu jawaban: Kepemimpinan Nasional. Negeri ini butuh pemimpin dengan kapasitas kepemimpinan yang amat mumpuni. Strong Leadership, berani berubah dan mengubah! Namun, tetap proporsional. Berkemampuan eksploitasi dan eksplorasi, mampu menjaga stabilitas dengan mengopitimalkan sumberdaya yang ada, sekaligus melakukan berbagai inovasi, pengembangan berbagai gagasan baru untuk menjadi negara yang terus bertumbuh. Ambidextrous, gitu.

Lexica.art
Lantas, bagaimana dengan pariwisata?
Pariwisata, tak dipungkiri, adalah primadona negeri ini. Bersama-sama dengan minyak dan gas, serta kepala sawit, pariwisata dan ekonomi kreatif menduduki tiga besar perolehan devisa negara. Hal ini mengindikasikan bahwa pariwisata bukan suatu yang kaleng-kaleng, melainkan suatu yang mesti digarap dengan tingkat kesungguhan tinggi dari semua stakeholders, yang disebut ABCGM ( Academicy, Bussiness, Community, Goverment, Media) yang secara bersama-sama harus bahu membahu, bersinergi, dan berkolaborasi, dengan satu tekad bersama, ” Pariwisata Indonesia Berjaya”.

Storynomics Tourism
Berbincang pariwista adalah berbincang tentang keindahan, keelokan, kenyamanan, dan sebagainya. Oleh karenanya, jargon Sapta Pesona, mewakili semua itu: Aman, Tertib, Indah, Bersih, Sejuk, Ramah, dan Kenangan. Semua itu butuh disampaikan, disuarakan, dan dipromosikan dengan fakta-fakta yang sesungguhnya sesuai dengan realita, sehingga implementasinya sesuai dengan apa yang ada, bukan semata jargon dan pencitraan. Apakah cukup dengan menyampaikan fakta-fakta dan keadaan yang sesungguhnya? Tidak, ternyata. Ada pepatah apik menyatakan,” Facts will fall like leaves, but massage will grow and strong like trees”.
Suatu yang berkesan dan mengesankan akan selalu diingat dan sulit terlupakan. Berbeda dengan fakta dan data, orang mudah lupa dan melupakan. Pertanyaannya, bagaimana cara agar sesuatu itu berkesan dan mengesankan? Jawabannya, dengan mengisahkan dan menceriterakan, dengan apik dan menarik, tentunya. Ya, storytelling.
Storynomics Tourism adalah pendekatan dalam industri pariwisata yang menggunakan kekuatan narasi atau cerita untuk menciptakan pengalaman yang lebih bermakna, menarik, dan berkesan bagi wisatawan. Konsep ini menggabungkan storytelling (penceritaan) dengan prinsip ekonomi dari pengalaman hidup dan budaya masyarakat (living culture). Merupakan proses kreatif dalam mengeksplorasi destinasi wisata, di mana cerita menjadi elemen sentral dalam membangun hubungan emosional dengan pengunjung. Storynomics tourism bukan sekadar pengenalan dan pemahaman destinasi secara harfiah. Dalam prosesnya melibatkan pengalaman, pengetahuan, keunikan konten, dan kekuatan narasi untuk menggali makna yang lebih dalam. Storynomics tourism menempatkan cerita sebagai jembatan penghubung antara wisatawan dan destinasi, menjadikannya lebih dari sekadar kunjungan fisik—tetapi sebuah perjalanan emosional dan intelektual yang mendalam.

Dalam storynomics tourism lokalitas dengan segala keunikan dan keontetikan konten dengan semua pernak perniknya, sebagai identitas tempatan, menjadi daya tarik utama. Bersama-sama dengan pembangunan ekonomi pengalaman (experience economy), yakni, kegiatan ekonomi masyarakat yang tidak sebatas penyajian produk dan layanan, melainkan penciptaan nilai tambah melalui pengalaman langsung yang terasa personal dan bermakna. Keduanya berintegrasi, dikemas, dan disajikan dalam bentuk cerita (storytelling) yang menarik dengan kekuatan narasi nan epik. Penyajiannya, dalam berbagai platform, agar lebih hidup dan menghidupkan, kudu diimbuhi dengan dimensi emosional dan intelektual.
Tampaknya, tantangan bagi para pelaku pariwista, dalam semua variannya, menjadikan storynomic tourism sebagai salah satu garapan penting dalam mengembangkan pariwisata ” Negeri Serpihan Sorga” ini. Sehingga cita-cita “Pariwisata Indonesia Berjaya” bukan sekadar retorika idealitas, melainkan menjadi realitas.
Salam Pariwisata

Comments (0)